Catatan Perjalanan Guru Berprestasi ke Jepang (Bagian 1)

Senin, 2 Mei 2016

Terhitung dari tanggal 17 hingga 29 April 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan memberangkatkan 14 orang guru SMP dari 14 propinsi di Indonesia ke Jepang untuk mengikuti short course melalui observasi langsung kegiatan pendidikan di Negeri Sakura sebagai penghargaan atas pencapaian sebagai Guru Berprestasi tingkat SMP. Penulis artikel ini, Khaidir Mustafa, adalah salah seorang staf LPPPTK KPTK yang turut serta dalam kegiatan tersebut bertugas sebagai Team Leader. Selama rentang waktu tersebut, rombongan Guru Berprestasi mengunjungi 10 lokasi, yaitu:

  1. SMP Otsuka Tokyo
  2. Kementerian Pendidikan Jepang
  3. SMP Ando Shizuoka
  4. SMP Kambara Shizuoka
  5. SMP Fuzoka Shizuoka
  6. Nasional University Corporation Shizuoka University
  7. Dewan Pendidikan Shizuoka
  8. SMP Momoyama Kyoto
  9. SMP Shujitsu Okayama
  10. SMP Gakugeikan Seishu Okayama

Kunjungan pertama dari rangkaian kunjungan dilakukan di SMP Otsuka. Di sekolah ini kami disambut oleh Koyama-sensei, Wakil Kepala SMP Otsuka. Di sekolah ini kami menyaksikan secara langsung proses belajar-mengajar yang berlangsung di SMP Otsuka di tiga ruang kelas yang sedang berlangsung kegiatan belajar-mengajar Bahasa Inggris, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, serta menyaksikan video profil SMP favorit di Jepang ini.

SMP Otsuka yang didirikan pada tahun 1888 oleh Kano Jigoro-sensei, lebih dari 120 tahun yang lalu merupakan sekolah yang berpedoman pada prinsip strong (kekuatan), justice (keadilan), dan cheerfulness (keceriaan), yang dapat dimaknai dengan upaya menggunakan tenaga yang kita miliki untuk digunakan dalam mencapai kebahagiaan baik untuk diri sendiri maupun orang lain. SMP Otsuka adalah salah satu sekolah favorit di Jepang yang peminatnya pada masa pendaftaran baru mencapai hingga lima ribu calon siswa yang memperebutkan tidak lebih dari seratus kuota siswa yang diterima. SMP Otsuka adalah sekolah percobaan (lab school) dari Universitas Tsukuba, salah satu universitas ternama di Jepang yang menghasilkan lulusan di bidang pendidikan (guru).

Dalam pemaparan yang disajikan, salah satu hal yang menjadi perhatian khusus bagi penulis adalah fenomena bully di sekolah, yang merupakan salah satu masalah di dunia pendidikan Jepang yang bahkan menyebabkan hingga bunuh diri oleh siswa akibat tidak tahan terhadap perilaku bully. Meskipun di SMP Otsuka tidak pernah terjadi kasus bunuh diri akibat bullying, namun secara khusus sekolah ini juga menaruh perhatian terhadap fenomena tersebut. Penanganan secara khusus terhadap bullying dilakukan dengan pendekatan yang mempertemukan antara korban dan pelaku bully guna dibahas bersama mengenai terjadinya bully untuk dicari solusi yang tepat bagi keduanya.

Selain bully, pertanyaan yang penulis ajukan mengenai sistem homeroom teacher atau yang jamak disebut dengan istilah wali kelas. Dari video pemaparan yang disajikan, salah satu adegan disuguhkan betapa dekatnya seorang wali kelas dengan siswa-siswi yang menjadi anak walinya. Di SMP Otsuka sendiri seorang wali kelas membimbing satu kelas yang berganti setiap tahunnya persis seperti mekanisme perwalian kelas di Indonesia, namun tidak jarang juga terjadi seorang wali kelas memilih dengan kesadaran atau kenginan sendiri untuk menjadi wali dari satu kelas yang sama selama tiga tahun. Pengawalan pengembangan potensi pendidikan anak wali diakui merupakan salah satu kesulitan tersendiri di dunia pendidikan Jepang yang disebabkan karena padatnya jadwal kerja seorang guru dan banyaknya siswa yang menjadi anak walinya (satu kelas di SMP Otsuka dapat mencapai hingga 40-an anak), sehingga mekanisme pengamatan potensi peserta didik hanya bisa dilakukan dengan cara yang terbatas yaitu dengan mengumpulkan laporan-laporan dari guru-guru mata pelajaran tentang anak walinya.

Peragaan cara meminum teh oleh salah satu klub kegiatan ekstrakurikuler di SMP Otsuka

Sistem Lab School yang diterapkan Universitas Tsukuba pada sekolah-sekolah afiliasinya terbukti berhasil, dengan diakuinya SMP Otsuka sebagai salah satu sekolah terbaik dengan standar kualitas siswa dan tenaga pengajar yang tergolong tinggi, bahkan untuk standar Jepang. Metode ini sebaiknya diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia dengan pengawalan yang lebih serius, mengingat ada beberapa LPTK yang juga memiliki sekolah binaan namun dari segi kualitas belum ada yang terkenal dan diakui hingga level nasional seperti halnya SMP Otsuka. Sebagai institusi penghasil guru, LPTK seharusnya kaya dengan berbagai metode pendidikan yang mumpuni hasil dari penelitian dan eksperimen yang dilakukan oleh LPTK yang dapat diaplikasikan dalam bentuk berbagai ujicoba di sekolah-sekolah binaannya.