Penyakit Berbahaya Manusia Dapat Diketahui dari Studi Zebrafish

[Korea Selatan] – “Penelitian terhadap Zebrafish dapat mengetahui proses terjadinya penyakit berbahaya pada manusia seperti kanker, diabetes, penyakit otot, gangguan jantung, gangguan ginjal, dan banyak lagi,” ungkap Septianto Wikan Nurhidayat, mahasiswa Doktor (PhD student) Departement Biosains Laut Gangneung Wonju National University (GWNU) Korea Selatan saat memberikan materi pada hari keempat Program Pelatihan Guru ke Luar Negeri di ruang kelas Marine Center GWNU, Kamis (14/3).

Wikan yang juga mahasiswa asal Indonesia mengatakan Zebrafish (Danio rerio) merupakan spesies ikan air tawar, umumnya berasal dari Asia Selatan dan Pasifik, yang biasa dijadikan organisme model pengkajian bioteknologi. Ikan ini adalah hewan vertebrata yang dianggap penting dalam membantu perkembangan ilmu genetic, neurofisiologi, dan biomedis saat ini.
Kata Wikan, cara untuk mengetahui penyebab penyakit pada manusia yaitu memberikan perlakuan penyakit yang sama atau mirip dengan penyakit manusia pada hewan uji (organisme model). “Salah satu hewan uji yang cocok untuk perlakuan ini adalah zebrafish. Peneliti bisa memanipulasi gen zebrafish agar menyerupai penyakit manusia dan mengamati langsung perubahan penyakit pada ikan ini. Hal ini tak mungkin dilakukan pada tikus,” lanjut Wikan.

Ahli bioteknologi perikanan ini menjelaskan secara genetika, ikan ini mempunyai gen yang hampir sama dengan manusia, dengan tingkat kemiripan sekitar 70%. Sistem saluran pencernaan, jaringan adiposa viseral, sistem otot rangka, dan sistem organ lainnya pada ikan ini memiliki persamaan dengan manusia, sehingga menjadikan dasar utama untuk pengembangan dan eksplorasi berbagai macam model penyakit pada manusia. “Selain itu, penggunaan zebrafish dalam penelitian membutuhkan biaya yang relatif kecil (lebih ekonomis),” ujar alumni program Magister Universitas Gajah Mada ini.

Sementara itu, tambah Wikan, dalam hal pengelolaan kesehataan ikan, pemanfaatan bioteknologi juga sangat berguna. Pengelolaan kesehatan ikan harus difokuskan pada pembenahan komponen pathogen, inang, dan lingkungan yang dilakukan secara terintegrasi. “Biologi molekuler dan bioteknologi memberikan kemudahan dalam penelaahan penyakit pada masing-masing komponen dan interaksinya, serta memungkinkan untuk melakukan perekayasaan pada interaksi komponen tersebut untuk pengendalian penyakit,” papar Wikan. *** (Al Azhar, Gangneung-Korea Selatan).

 

Galeri Foto