Sampah laut di Indonesia

Kontributor: Singgih Afifa Putra, M.Si. (Widyaiswara BPPMPV KPTK)

Diterbitkan: 22 Februari 2021

Menurut KBBI sampah adalah barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi. Pada Tanggal 21 Februari diperingati sebagai hari peduli sampah nasional (HPSN) setiap tahunnya. HPSN digunakan sebagai momentum untuk menyadarikan masyarakat dalam upaya pengurangan sampah. Sudah banyak usulan dan kajian ilmiah yang menyatakan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tersebut adalah dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat (Mulyadi et al. 2010, Wardi 2011).

Sekilas sampah laut di Indonesia

Sejak satu daswarsa yang lalu, Indonesia telah dilaporkan sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia, dengan kontribusi buangan sampah ke lautan sekitar 0,48-1,29 juta MT per tahun (Jambeck et al. 2015). Laporan tersebut mengungkap setidaknya 2,5 Milyar MT sampah plastic yang sudah masuk ke lautan. Hal tersebut disinyalir sebagai dampak dari buangan aktivitas antropogenik negara negara yang berada di garis pantai di dunia.

Kajian lainnya di wilayah Teluk Jakarta menunjukkan setidaknya 23 ± 7,10 Ton sampah masuk ke perairan Teluk Jakarta setiap harinya (Cordova and Nurhati 2019). Sampah tersebut masuk melalui Sembilan sungai yang mengalir di daerah Jakarta. Jumlah sampah akan semakin besar Ketika musim hujan (Desember-Februari). Besarnya jumlah sampah yang masuk tersebut, Sebagian besar didominasi oleh Styrofoam. Sampah sampah tersebut selain terakumulasi di Kawasan pesisir (pantai), nantinya juga akan terdegradasi (tidak larut) menjadi ukuran yang lebih kecil (mikroplastik) dan hanyut hingga ke perairan lepas (Syakti et al. 2017).

Pada masa pandemi covid 19 saat ini, sampah antropogenik semakin meningkat dengan banyak ditemukannya sisa alat pelindung diri (masker, sarung tangan, face shield, dll) juga berakhir di lautan (Cordova et al. 2021).

Dampak sampah di lautan

Sampah plastik yang sudah terdegradasi menjadi ukuran mikro dan nano kemudian akan di konsumsi oleh biota-biota yang ada di lautan, baik melalui mekanisme langsung maupun proses bioakumulasi. Beberapa biota laut tersebut adalah biota konsumsi manusia seperti ikan dan kekerangan. Hal ini sudah dilaporkan dimana dari hasil analisis laboratorium ditemukan setidaknya 20 – 30 % ikan dan kerang yang diuji mengandung sampah antropogenik. Ikan dan kerang tersebut diperoleh dari pasar ikan Paotere, pasar ikan terbesar di Makassar (Rochman et al. 2015). Komponen sampah yang ditemukan bermacam macam terdiri dari degradasi material sampah yaitu fragmen, monofilament, foam, fiber, dan film (lembaran  tipis). Selain itu, sampah tadi juga berdampak langsung hingga kematian terhadap spesies lautan yang baik sengaja ataupun tidak sengaja mengkonsumsi sampah-sampah yang hanyut dan terakumulasi di perairan (Gall and Thompson 2015).

Peran pendidik terhadap momentum peduli sampah nasional

Kampanye dan penyebaran informasi sangat perlu dilakukan sebagai upaya penyadaran kepada masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Bagi kita, guru dan tenaga kependidikan dapat menerapkan disiplin pengelolaan sampah di lingkungan sekolah dengan menerapkan budaya bersih dan peraturan terkait kebersihan baik tertulis maupun tidak tertulis. Budaya bersih ataupun aspek yang berkaitan dengan kebersihan dapat disisipkan pada setiap mata pelajaran yang disampaikan. Misalnya, pada pelajaran agama mungkin bisa disampaikan terkait pentingnya lingkungan ibadah yang bersih, atau pada pelajaran kimia dapat dijelaskan degradasi plastik sekali pakai hingga dapat berdampak terhadap lingkungan. Pada pelajaran biologi, misalnya dapat ditunjukkan dampak dampak sampah plastic yang sudah menyebabkan kematian terhadap satwa liar di laut maupun di daratan. Sebagai contoh pada Tahun 2020 yang lalu di masa pandemi Covid-19, LPPPTK KPTK melaksanakan pelatihan daring Program Literasi Kelautan, dimana salah satu penugasan yang diberikan adalah dengan membuat himbauan dan poster terkait penambahan wawasan di bidang kelautan. Sebagian besar peserta memilih membuat poster himbauan pengurangan pengguanan plastik sekali pakai. Upaya-upaya tersebut dapat kita lakukan dengan harapan menyadarkan masyarakat khususnya peserta didik dan kolega dilingkungan kerja kita untuk perduli terhadap pengelolaan sampah antropogenik.

 

Daftar Rujukan

Cordova MR, Nurhati IS (2019) Major sources and monthly variations in the release of land-derived marine debris from the Greater Jakarta area, Indonesia. Scientific Reports 9. https://doi.org/10.1038/s41598-019-55065-2

Cordova MR, Nurhati IS, Riani E, Nurhasanah, Iswari MY (2021) Unprecedented plastic-made personal protective equipment (PPE) debris in river outlets into Jakarta Bay during COVID-19 pandemic. Chemosphere 268: 129360. https://doi.org/10.1016/j.chemosphere.2020.129360

Gall SC, Thompson RC (2015) The impact of debris on marine life. Marine Pollution Bulletin 92: 170–179. https://doi.org/10.1016/j.marpolbul.2014.12.041

Jambeck JR, Geyer R, Wilcox C, Siegler TR, Perryman M, Andrady A, Narayan R, Law KL (2015) Plastic waste inputs from land into the ocean. Science 347: 768–771. https://doi.org/10.1126/science.1260352

Mulyadi A, Husein S, Saam Z (2010) Perilaku Masyarakat dan Peranserta Pemerintah Daerah dalam Pengelolaan Sampah di Kota Tembilahan. Jurnal Ilmu Lingkungan 3: 147–162.

Rochman CM, Tahir A, Williams SL, Baxa D V., Lam R, Miller JT, Teh FC, Werorilangi S, Teh SJ (2015) Anthropogenic debris in seafood: Plastic debris and fibers from textiles in fish and bivalves sold for human consumption. Scientific Reports 5: 1–10. https://doi.org/10.1038/srep14340

Syakti AD, Bouhroum R, Hidayati NV, Koenawan CJ, Boulkamh A, Sulistyo I, Lebarillier S, Akhlus S, Doumenq P, Wong-Wah-Chung P (2017) Beach macro-litter monitoring and floating microplastic in a coastal area of Indonesia. Marine Pollution Bulletin 122: 217–225. https://doi.org/10.1016/j.marpolbul.2017.06.046

Wardi IN (2011) Pengelolaan sampah berbasis sosial budaya: upaya mengatasi masalah lingkungan di Bali. Jurnal Bumi Lestari 11: 167–177.

 

Sumber Gambar:

https://klikhijau.com/read/mencegah-sampah-plastik-ke-laut-realistis-atau-utopis/

 

Galeri Foto