Lokakarya Perikanan BPPMPV KPTK Dihadiri Dirjen Pendidikan Vokasi

Lokakarya Perikanan Balai Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (BPPMPV KPTK) yang diselenggarakan di Gedung Serbaguna BPPMPV KPTK tanggal 18 Maret 2022 dihadiri Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto M.Sc, Ph.D dan Direktur Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Dr. Wardani Sugiyanto M.Pd.

Bertindak sebagai pembicara utama, di hadapan para kepala SMK kemaritiman dari beberapa provinsi di Indonesia dan para guru perikanan kelautan Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Dirjen Pendidikan Vokasi mengatakan tidak akan membahas tentang Link and Super Match (8+i), Pembelajaran Berbasis Projek (PjBL), ataupun kurikulum merdeka. Pada momen ini, Wikan Sakarinto memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan aspirasi dan masalah yang terjadi di SMK Kelautan Perikanan.

Dirjen Pendidikan Vokasi menekankan lulusan SMK tidak hanya memiliki hardskill atau keterampilan yang menjadi salah satu kompetensinya, tetapi yang terpenting juga adalah soft skill. Soft skill merupakan keterampilan non teknis yang terkait karakter pribadi, kecerdasan emosional, kemampuan komunikasi, berpikir kritis, perilaku baik ketika bekerja di industri maupun ketika berada di luar lingkungan kerja. “Untuk SMK bidang perikanan, harus menciptakan kurikulum yang mempersiapkan lulusan menjadi pengusaha,” pesannya.

Selain Wikan Sakarinto, kegiatan yang mengusung tema Pengembangan Sumberdaya Manusia dan Potensi Ekspor Hasil Laut Perikanan Indonesia ini juga menghadirkan dua orang pembicara utama lain yaitu Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan Ir Sulkaf S Latif MM dan Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat Dr. Muhammad Idris M.Si.

Dalam pemaparannya, Sulkaf Latif mengatakan Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah yang memiliki kemampuan ekpor hasil perikanan yang besar, mencapai sekitar USD 361 juta. Komoditas perikanan yang diekspor antara lain rumput laut, udang, ikan cakalang, dan gurita. Saat ini pihaknya tengah mempersiapkan ekspor ikan buntal. “Perlu mengetahui aturan atau regulasi ekspor yang diberlakukan secara nasional maupun internasional,” ucapnya.

Sementara itu, Muhammad Idris mengungkapkan Sulawesi Barat memiliki potensi perikanan yang cukup besar, tentunya didukung dengan letak geografis daerahnya yang berada di wilayah pesisir. Muhammad Idris berharap Sulawesi Barat menjadi provinsi laboratorium perikanan yang unggul.

“Lokakarya ini semoga menjadi momentum bagi kita semua untuk membangun komitmen dan melakukan konsolidasi dalam memajukan perikanan. Perlu adanya strategi plan mendorong SMK perikanan yang unggul. Para kepala SMK harus berpikir out of the box, SMK harus kompatible dengan kebutuhan dunia usaha dunia industri,” pinta Muhammad Idris.

Narasumber lain yang ikut berpartisipasi pada lokakarya sehari ini Ir. Putu Sumardiana MP Koordinator Wasdalin Badan Besar Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Makassar (Kementerian Kelautan dan Perikanan) dan Jumeri S.Kom General Manager PT Bogatama Marinusa Makassar. Pokok bahasan masing-masing narasumber ini adalah Peran Pemerintah-Regulasi Ekspor Produk Perikanan dan Potensi Ekspor Perikanan Indonesia.

Sebelum lokakarya di BPPMPV KPTK, acara dimulai dengan penebaran 30.000 benih ikan air tawar di kolam regulasi Nipa-nipa Kabupaten Maros. Penebaran ikan ini dimaksudkan untuk meningkatkan stok populasi ikan di perairan umum dan melestarikan keanekaragaman sumberdaya ikan (***).

Catatan: Al Azhar (Widyaiswara BPPMPV KPTK)

 

Galeri Foto